Minggu, 20 Mei 2012

Menengok Kamar Albert Einstein


Jurnaldunia.com - Di ujung tangga, saya mengingat masa kuliah dulu yang “lurus-lurus” saja. Baru saja saya menyaksikan kehidupan Albert Einstein di perguruan tinggi yang penuh warna. Ia gagal ujian masuk, pindah kampus berkali-kali, juga berdebat dengan profesornya di ruang kuliah. Dan lihatlah: namanya kini menjulang tinggi. Sepenggal kehebatannya terekam di dalam Eisntein Haus, rumah empat lantai di Kramgasse 49, Bern, Swiss, yang saya kunjungi beberapa waktu lalu.

Semua kehidupan Einstein memang penuh warna. Ia suatu ketika bahkan tidak memiliki kewarganegaraan. Lahir di Ulm, Württemberg, Jerman, pada 14 Maret 1879, Einstein pernah menjadi warga negara Jerman, Swiss, Austria, dan Amerika Serikat. “Rumah ini merupakan tempat tinggalnya sewaktu di Bern pada 1903-1905,” kata petugas Einstein Haus.


Sejarah Einstein ada di situ. Saya melihat piyama dipajang di lemari kaca –ukurannya cukup besar dibandingkan bayangan saya tentang Einstein. Setelan ini disandingkan dengan baju tidur serupa milik istrinya, Mileva. Foto-foto Einstein kecil, ketika ia remaja, juga masa dewasanya dipajang di dinding. Pada satu foto ia berpose bersama teman-teman kuliah. Foto lain menampilkan ia dan Mileva. Di semua foto Einstein terlihat ganteng dan rapi, jauh dari rambut jabrik, kumis berantakan, mata nyaris terkatup yang selalu melekat di otak saya sejak kecil.


Dokumen imigrasi Einstein juga dipajang. Dari paspornya, saya bisa menyaksikan betapa sibuknya hidup pria yang di masa kecilnya dikenal pemalu ini. Terlihat stempel imigrasi dan catatan sejumlah negara, berkali-kali. Pelbagai medali juga dipajang, menggambarkan kehebatan pemilik rumah (lebih tepatnya apartemen kecil). Salah satu kehebatannya: ia menyusun teori Relativitas yang masyhur itu ketika tinggal di sini. Pengunjung juga bisa menyaksikan video rekaman pidato Einstein dalam film dokumenter yang disediakan dalam tiga bahasa: Inggris, Jerman, dan Prancis.


Apartemen Eisntein merupakan bangunan empat lantai. Lantai pertama kini merupakan toko-toko, sama seperti bangunan serupa yang berjejer di sebelahnya. Keluarga sang legenda tinggal di tiga lantai atasnya. Untuk naik, saya melewati tangga kayu sempit yang berbelok dua kali di setiap lantai. Saya membayangkan, Einstein yang lelah setelah seharian bekerja menapaki tangga ini, dan berseru: “Mileva, apa makan malam kita?” Atau ketika Hans, putra mereka yang lahir pada 1898, menyambut papanya di mulut tangga.


Ruang-ruang ditata sesuai posisi aslinya. Meja, lemari, sofa juga
wallpaper di dinding. Di satu sudut masih ada keranjang bayi Hans Albert, putra Einstein dan Mileva. Jendela apartemen juga tak diganti. Dari jendela ini, saya menyaksikan Kramgasse di bawahnya . Semua rumah berhias pot penuh bunga –indah seperti foto-foto pada kartu pos. Kramgasse merupakan wilayah kota tua Bern. Rumah Einstein tak jauh dari Clock Tower –“jam gadang” milik pusat pemerintahan negara Swiss itu.

Rumah Einstein, atau Einstein Haus, selalu menjadi tujuan para pengagum sang jenius yang pergi ke Bern. Walau, seperti kota-kota tua di Eropa, Bern penuh dengan keindahan. Selain gereja-gereja dengan sejarah panjang, kota ini terlihat unik dengan atap khas rumah di sepanjang pinggir sungai.


Di ujung tangga Einstein Haus, saya kemudian menyadari, Einstein besar bukan sekadar masa kuliahnya yang berwarna. Saya tak menyesal menjalani masa kuliah dengan “lurus-lurus” saja. Toh, otak saya kecil saja, tidak sedahsyat sang legenda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
THANKS FOR VISITING DEWIMARLAINA.BLOGSPOT.COM