Kamis, 12 April 2012

Saat Tsunami Diserap Jadi Instilah Inggris


Tsunami menjadi kejadian misterius yang selalu membuat panik banyak orang. Biasanya, peristiwa ini terjadi mengiringi gempa besar yang bersumber dari penurunan atau gerakan naik patahan kerak bumi di dasar laut. Tapi, terkadang ada juga gempa besar yang tidak diikuti tsunami. Bentuk fisik tsunami ini berupa gelombang besar air laut yang merangsek ke wilayah darat.

Gelombang ini berasal dari pusat gempa di tengah laut, lalu bergerak ke wilayah pantai. Makin mendekati pantai gelombang tsunami makin besar dan membahayakan. Bisa jadi, saat berada di titik pusat gempa, gelombang tsunami itu masih kecil. Oleh karena itulah biasanya tsunami justru tidak dirasakan oleh mereka yang berada di tengah laut.

Peristiwa tsunami besar terjadi 26 Desember 2004 yang dikenal dengan Tsunami Aceh. Musibah ini menyebabkan ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi karena rumahnya rusak. Dunia mencatatnya sebagai tsunami terbesar dalam seabad terakhir. Kejadian ini memicu istilah tsunami menjadi sangat populer dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi istilah universal.

Sejatinya, istilah tsunami itu berasal dari bahasa Jepang ‘tsu’ yang berarti pelabuhan dan ‘nami’ yang berarti gelombang. Menurut situs npr.org, istilah tsunami sudah digunakan oleh masyarakat Jepang sejak sekitar 1.000 tahun yang lalu. Jepang memang  negara yang terekam paling banyak jadi korban amuk tsunami. Sekitar sepertiga dari peristiwa tsunami yang terekam sejarah, terjadi di Jepang.

Karena kejadian tsunami sering mengundang perhatian banyak pihak, istilah tersebut makin sering diucapkan orang. Biasanya, tsunami menyedot perhatian publik karena bahaya yang ditimbulkannya. Akibat seriung diucapkan, tsunami kemudian menjadi istilah yang dikenal semua negara. Diperkirakan, istilah tsunami mulai diadopsi dalam bahasa Inggris sejak sekitar 100 tahun yang lalu.

Penjelasan soal masuknya tsunami dalam istilah Inggris ini dikemukakan oleh ahli linguistik Ben Zimmer dari  Visual Thesaurus. Menurut penjelasannya, di tahun 1896 terjadi gempa besar yang disertai gelombang laut yang bergulung ke wilayah darat. Kemudian Majalan National Geographic kemudian menuliskannya dengan menyebut istilah tsunami.

Dari sinilah kemudian istilah mulai digunakan dalam beberapa artikel berbahasa Inggris. Makin lama, penggunaan istilah tsunami untuk menggambarkan gulungan ombak lautan ke wilayah darat pun makin luas, dan akhirnya menjadi istilah serapan dalam bahasa Inggris. Begitu tsunami besar menerjang wilayah Samudera Hindia di tahun 2004, istilah tersebut sudah menjadi bahasa universal yang dikenal penutur semua bahasa.

Popularitas istilah ini tidak begitu saja berjalan mulus. Ada juga kritik yang hadir untuk penggunaan istilah tersebut. Profesor Robert Ramsey, kepala Departemen Budaya dan Bahasa Asia Timur di Universitas Maryland menyebutkan bahwa secara teknik, istilah tsunami sebenarnya tidak mewakili kejadian yang sebenarnya.

Jika merujuk pada makna tekstual istilahnya, tsunami berarti gelombang pelabuhan. Di situ terlihat bahwa yang bisa disebut tsunami hanyalah gelombang laut yang menerjang pelabuhan. Padahal, kata Ramsey, fenomena tsunami bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di pelabuhan. Namun demikian, istilah ini sudah menjadi wakil dari terjangan gelombang besar dari lautan ke wilayah daratan. Pendapat Ramsey ini tidak membuat istilah tsunami menjadi tergeser.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
THANKS FOR VISITING DEWIMARLAINA.BLOGSPOT.COM